Betapa Rapuh Diriku

Kerisauan dan kegelisahan hidup sepanjang hari senantiasa aku alami, mengingat betapa berat beban hidup ini. Ditengah kondisi ekonomi yang semakin tidak tentu, harga kebutuhan semakin membumbung tinggi dan biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin hari semakin tak mampu aku cukupi. Mulai dari kebutuhan makan sehari-hari, fotocopy bahan perkuliahan, biaya rekening listrik, beban pulsa handphone, mencicil hutang-hutang, biaya sewa rumah sampai biaya SPP kuliahku setiap semester serasa semakin membebaniku.

Selama itu aku senantiasa mencoba untuk tegar sebisaku memenuhi semua yang menjadi kebutuhan dengan bekerja dan berbisnis sebisaku. Sementara hasil dari pekerjaanku samasekali tidak dapat dijadikan pengharapan, demikian juga dengan hasil bisnisku jauh dari cukup. Namun apa yang bisa aku lakukan, hanya menjalani semua dengan kesabaran dan kepasrahan. Memang benar, Alloh Ta’alaa telah mengatur semua kebutuhan umat-Nya, terbukti dengan penghasilan seadanya saya masih bisa makan, bisa mengisi bensin motor, membeli perlengkapan kuliah walaupun sebagian hutang harus saya tunda pembayarannya.

Hal seperti itu berlangsung begitu lama namun sepertinya bagiku yang aku terima masih kurang sehingga sifat lemah iman menggerogotiku, kesabaran yang tadinya aku coba pelihara semakin hari semakin surut, sikap pasrah yang ada dalam hatiku kala itu terkikis oleh kelemahanku. Dalam batin terbersit sebuah pembenaran : orang-orang yang tidak sholat dan jauh dari agama Alloh hidupnya senang-senang saja bahkan semakin bertambah kekayaannya. Mereka yang bergelimang maksiyat terlihat begitu nikmat menjalani hidup mereka, tanpa beban seakan semua yang mereka inginkan mudah mereka dapatkan. Mengapa aku yang menjalankan ibadah baik sholat, puasa, wirid dan selalu mengingat Alloh (menurut pengertianku karena Alloh Ta’alaa yang lebih tahu) selalu susah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Padahal aku tidak meminta agar kaya raya dan bergelimang harta, hanya tercukupi kebutuhan hidupku, tapi apa yang aku harapkan itu sangat susah didapatkan.

Akhirnya ibadah sholatku dari hari kehari semakin menurun kwalitasnya hingga pada suatu kesempatan samasekali tidak melakukan sholat. Namun apa yang terjadi bukan ketenangan dan kesuksesan yang aku dapatkan, kesusahan hidupku semakin bertambah dari hari ke hari. Hal itu tidak berlangsung lama, aku mulai menyadari kekeliruan jalan fikiran tentang orang-orang yang jauh dari ibadah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh sangat menyayangiku, betapa tidak seandainya saja ketika aku tidak beribadah kepada Alloh jauh dari Alloh dan dengan kekuasaan-NYA, Alloh menjadikan hidupku secara materi duniawi terpenuhi dan aku terlena dan semakin terlena sampai akhir hidupku, akan jadi apa aku ketika menghadap Alloh Ta’alaa.

Aku menyadari semua terjadi bukan tanpa kendali dari Alloh, dengan kuasa-NYA Alloh ingin menunjukkan kepadaku betapa rapuh dan lemahnya manusia tanpa pertolongan Alloh. Keyakinanku semakin tebal tatkala membaca penggalan surat Al-Fatihah yang berbunyi “iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”.
Yaa Alloh ternyata Engkau membuka tabir itu semakin jelas lewat arti dari penggalan surat Al-Fatihah tersebut : “Kepada-MU (Alloh) lah aku menyembah dan hanya kepada-MU (Alloh) lah aku memohon pertolongan”. Pencarianku berujung pada sebuah kenyataan yang tak terpungkiri bahwa Alloh Maha Penolong.

Alloh begitu indahnya menata hidupku sesuai dengan kehendak-NYA. Penghasilanku yang apabila dihitung secara matematis samasekali tidak mampu mencukupi seluruh kebutuhan hiduku. Namun Alloh mengaturnya begitu sempurna mulai tanpa diduga aku mendapatkan hasil lebih dari bisanya, dari pekerjaanku,orderan kaktus, komputer dan lain sebagainya yang semua itu tentu atas izin dan kehendak Alloh. Semua yang terjadi menjadikan aku sungguh sangat bersyukur, walau hidup boleh dikatakan cukup namun aku belajar untuk mensyukuri nikmat yang Alloh berikan, mengapa aku tidak menyadari bahwa nikmat dari Alloh aku dapatkan setiap saat dalam hidupku mulai dari bangun pagi, Alloh masih memberikan aku waktu untuk menghirup udara, menikmati hari dengan tubuh yang sehat, menyaksikan gedung D2 (biologi, tempatku kuliah) yang semakin kumal, mencermati pasaran Warnet Character tempatku bekerja yang semakin surut, menikmati hidangan walau seadanya dengan nikmat sementara orang lain walau bergelimang kemewahan namun tidak dapat menikmati karunia Alloh karena sakit yang parah. Tentu masih banyak lagi nikmat lain yang seandainya aku tuliskan tak cukup untuk aku paparkan hingga menjelang tidurku.

Benar adanya bahwa Alloh Ta’alaa berserta orang-orang yang sabar dan berserah diri, Alloh memudahkan segala urusan, kesulitan dan perkara-perkaraku. Tentu itu semua terjadi sesuai dengan kehendak dan rencana-NYA, aku samasekali tidak memiliki kemampuan untuk meminta penyelesaian sesuai dengan kemauanku sendiri. Penyelesaian segala urusanku ternyata begitu sempurna dari yang Maha Sempurna, semoga benar adanya Alloh meridhoiku. Tidak ada keraguan lagi bahwa hidup memang harus disyukuri apapun keadaan hidup kita itulah yang terbaik menurut Alloh, menjalaninya dengan kesabaran dan ketawakalan karena Alloh pasti menguji umat-NYA yang mengaku beriman kepada-NYA dengan segala bentuk ujian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: