Jadi Pengusaha Hampir Wajib Hukumnya.

Menurut saya menjadi pengusaha itu hampir wajib hukumnya.
Ah, anda pasti langsung menuduh saya materialistis. Anda salah!
Saya tidak sedangkal itu. Karena, sebenarnya terdapat segudang manfaat di balik entrepreneurship. Anda masih kurang yakin?
Baiklah, akan saya tunjukkan satu per Satu

* Pertama, alih-alih mencari lowongan kerja, pengusaha malah membuka lapangan kerja bagi khalayak. Asal tahu saja, seorang pengusaha yang berpengalaman bisa memperkerjakan puluhan hingga ratusan orang. Yah, paling tidak, ia membuka kesempatan kerja untuk dirinya sendiri. Bagi anda yang berkarir, kemudian memutuskan untuk keluar dari pekerjaan anda kemudian anda resign menjadi pengusaha, maka posisi pekerjaan yang anda tinggalkan bisa diisi oleh orang lain. Dengan kata lain, anda telah memberikan peluang kepada sesame. Mulia tho? he2 Ya, iyalah…Hmmm, itu belum seberapa. Masih banyak manfaat lainnya.
* Manfaat kedua, dengan menjadi pengusaha, maka pendapatan kita tidak lagi dipatok. Pendek kata, pendapatan kita akan lebih besar atau bahkan lebih kecil (kacian deh..). Lazimnya semakin besar pendapatan seseorang, semakin besar pula sumbangannya. Lihatlah di sekitar anda. Tidak terkira jumlah sekolah, kampus, rumah sakit, tempat ibadah yang dirintis oleh pengusaha. Itu bukan Cuma mulia, tetapi sangat mulia.

Konon, suatu saat nanti di depan pintu surga, berdirilah dosen, dokter, dan ulama. Dulunya, selama di dunia si dosen mendidik banyak mahasiswa, si dokter telah mengobati orang sakit, dan si ulama telah membimbing banyak orang yang berdosa. Walhasil, masing-masing menganggap dirinya paling berjasa, sehingga masing-masing merasa paling berhak untuk masuk surga paling dulu. Mereka pun berebut.
Tiba-tiba, datanglah pengusaha. Anda tahu apa kata mereka? Si dosen langsung menyambut, “Nah, ini dia pengusaha kita! Beliaulah yang membangun kampus , kami.” Si dokter pun berseru, “beliau juga banyak membantu klinik kami.” Si Ulama turut melengkapi, “beliau juga merupakan donator tetap untuk tempat ibadah kami.”
Akhirnya, mengingat jasa-jasa si pengusaha, maka baik dosen, dokter maupun ulama pun rela untuk mengalah. Mereka bertiga sepakat untuk mempersilakan pengusaha untuk masuk surga. Memang cerita ini Cuma isapan jempol belaka. Boleh-boleh saja anda tertawa. Tetapi poinnya amat jelas, pengusaha itu tak terkira jasanya.

Manfaat selanjutnya, dengan menjadi pengusaha, maka kita memiliki keleluasaan waktu. Ngumpul dengan keluarga? Bisa. Jalan bareng teman? Bisa. Termasuk keleluasaan beribadah. Itu artinya, Tuhan pun turut senang melihat kita menjadi pengusaha. Beneran.
Selain itu dengan adanya keleluasaan waktu, kita juga bisa menggali dan mengasah potensi diri. Tidak sedikit orang yang dianugerahi kelebihan yang mengejutkan dan menakjubkan, namun ia tidak pernah menyadari bahkan sengaja melupakannya, lantaran ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Sayang, kan? Siapa tahu anda menyimpan bakat sebagai penulis buku, pencipta lagu, dan masih banyak lagi. Bagaimana pendapat anda?

(Sumber: Majalah Pengusaha-Ippho Santosa) dan diedit oleh ku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: