Anti Predator

 LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI HEWAN
PENGAMATAN ANTI PREDATOR PADA Passer montanus
Disusun oleh :
Erik Arianto
logo.png
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
JATINANGOR
2006

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Interaksi adalah suatu hubungan antara satu species dengan species yang lain. Salah satu jenis interaksi adalah predasi, yaitu suatu hubungan makan dan dimakan antara satu organisme dengan organisme lain. Subjek dari predasi adalah predator (pemangsa) dan prey (mangsa). Predator memiliki suatu perilaku khusus dalam menjalankan interaksi tersebut misalnya, pada elang akan terbang rendah saat akan mulai menerkam mangsa, pada harimau yang akan mengendap-ngendap di semak.


Begitu pula prey memiliki kelakuan untuk mempertahankan diri terhadap pemangsa dengan meningkatkan kewaspadaannya, misalnya pada burung yang akan memberi peringatan dengan mengeluarkan suara, atau dengan menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri. Perilaku tersebut dalam ekologi dinamakan anti-predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari prey terhadap gangguan yang ditimbulkan dari luar (predator).

Prey menjadi waspada terhadap serangan predator dengan menggunakan sistem peringatan terhadap adanya predator. Respon prey terhadap sinyal yang diberikan oleh predator membuat prey bereaksi fleksibel terhadap beberapa tingkatan resiko predasi. Respon terhadap resiko predasi yang dilakukan oleh prey seperti menghindari predator dan tingkah laku melarikan diri merupakan hasil keputusan yang diambil prey, kedua hal ini telah dibuktikan melalui pengamatan yang dilakukan oleh para ahli ekologi.

Keputusan yang diambil prey berdasarkan kepada

  1. Kemampuan prey untuk menilai keberadaan predator,
  2. Kemampuan prey untuk membedakan antara predator dan atau tingkatan resiko yang akan diberikan oleh predator,
  3. Satu atau lebih kebiasaan bertahan prey untuk memilih hubungan yang efektif dengan predator tertentu, dan
  4. Keberadaan hubungan timbal balik antara predator dan prey menjadi sangat penting untuk membuat suatu keputusan bagi prey.

Salah satu bentuk kewaspadaan terhadap gangguan (anti-predator) dapat dilihat pada burung gereja (Passer montanus). Burung gereja diambil sebagai objek pengamatan karena mudah ditemui di kota-kota dan desa-desa. Burung ini hidup secara berkelompok di sekitar rumah, gedung, dan berbagai macam habitat.

Teknik yang dipergunakan oleh prey untuk lari dari predator tergantung dari jenis perilaku predator yang ada. Dalam hal ini, para ahli ekologi mengidentifikasi empat metode mengenai larinya prey yaitu, 1) Lari berdasarkan jumlah atau waktu, 2) Lari berdasarkan ruang, 3) Lari berdasarkan ukuran, 4) dan Lari berdasarkan mekanisme pertahanan yang lain.

1.2 Batasan Masalah

Pada laporan ini masalah yang akan dibahas adalah untuk mengetahui hubungan jumlah burung dengan frekuensi patukan dan jarak minimal ketika burung merasa terancam (tingkat kewaspadan).

1.3 Tujuan Praktikum

Praktikum ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kewaspadaan dari burung gereja (Passer montanus) terhadap predator (dalam hal ini praktikan).

II. Tinjauan Pustaka

Predator mengembangkan mekanisme untuk meningkatkan efisiensinya untuk menemukan dan menangkap mangsa. Prey itu sendiri mengalami tekanan selektif yang kuat untuk mengurangi peluang dapat termakan. Sifat-sifat dasar untuk suksesnya pelarian prey tersebut yaitu kecepatan yang lebih besar dibandingkan predator, kemempuan untuk melakukan manufer terhadap predator, menghindar terhadap predator ketika sedang diburu dan lain sebagainya.

Predasi hanyalah satu dari beberapa kematian yang berpengaruh pada populasi prey dibawah kondisi alami. Beberapa akan tergantung pada kondisi fisik ligkungan, sedangkan yang lainnya misalnya dapat bergantung pada kompetisi dan interaksi biologis lainnya. Predasi dan kemampuan mengindar (akselerasi) dari predasi berpengaruh kuat terhadap perilaku hampir semua hewan. Aktivitas dan perilaku dari predator termasuk menangkap mangsa yang lalu lalang dengan menggunakan berbagai tehnik, bergantung pada spesies yang terkait seperti pengejaran,penyerangan, menjebak, dan berbagai trik-trik lainnya yang digunakan demi mendapatkan prey sebagai mangsanya. Dari sisi yang dimangsapun yakni prey, mempunyai berbagai karakteristik dan prilaku untuk mempertahankan dirinya dari keberadaan predator yang mengancam jiwanya seperti menghindar dan melarikan diri dari predator, sembunyi dan berkamuflase dan berbagai cara lainnya agar tidak diinginkan oleh predator, termasuk didalamnya segala bentuk adaptasi yang terjadi pada frey untuk mempertahankan hidupnya dari predator.

Kemungkinan prey dapat lolos dari predator merupakan teknik khusus yang nampaknya mempunyai konsekuensi ekologis. Teknik yang dipergunakan oleh prey untuk lari dari predator sangat tergantung pada jenis prilaku predator yang ada dalam interaksi itu.

Terdapat 4 metode pokok mengenai larinya prey :

1. Lari berdasarkan jumlah atau waktu
Populasi prey mengurangi tekanan predator sehingga densitas predator tidak mungkin memberikan respon terhadap adanya prey yang secara periodik meninggi. Adaptasi yang dilakukan predator meliputi soal waktu yaitu peningkatan populasi predator seiring dengan peningkatan populasi prey. Populasi prey dapat melarikan diri dalam waktu, dengan cara bereproduksi cepat untuk mempertahankan populasi predator agar tidak menakan pertambahan prey tersebut. Prey berkembang biak lebih cepat dari predator khususnya pada saat musim pertumbuhan populasi keduanya terhambat.

Cara lain untuk lolos berdasarkan jumlah ialah mengelompok bersama untuk mengurangi peluang bahwa suatu individu akan terambil. Pengelompokkan ini membuat kelompok menjadi menarik dibandingkan dengan individu tunggal. Berkelompok itu dapat meningkatkan upaya untuk menghindari predator dengan membuat pertahanan kelompok sehingga lebih efektif dengan pertahanan individu tunggal. Lokasi suatu individu dalam suatu kelompok sangat penting dalam kaitannya dengan peluang untuk tertangkap.

Bila diasumsikan bahwa predator umumnya akan menyerang individu yang terdekat sehingga yang tertangkap adalah individu pada kelompok perifer, jadi lebih menguntungkan bagi individu yang berada pada posisi sentral. Anggota-anggota kelompok yang lain dapat pula memberi peringatan pada temannya tentang adanya ancaman dari predator. Tanda peringatan itu umumnya tidaklah memberi informasi tentang lokasi atau identitas predator, tetapi hanyalah suatu peringatan tentang adanya predator. Bergerombol juga memungkinkan adanya keuntungan, yaitu yang disebut dengan efek konfusi (eibl-eibesfeldt, 1970), yaitu prey melakukan banyak pergerakan untuk mengacaukan konsentrasi predator, jadi mengurangi peluang keberhasilan penangkapan.

2. Lari dalam Ruang
Pelarian prey dalam ruang menyangkut baik evolusi mekanisme dispersal jangka panjang, lebih efisien dari predator dan kemampuan jangka pendek untuk lari dan bersembunyi menurunkan resiko predasi untuk sekurang-kurangnya suatu bagian dari populasi prey. Pelarian dalam ruang dimungkinkan apabila bagian dari habitat tidak secara efektif dieksploitasi oleh populasi predator.

3. Lari oleh Ukuran
Terdapat hubungan antara ukuran predator dengan ukuran rata-rata dan ukuran ekstrim dari prey yang dimangsa. Batas ukuran untuk predasi berhubungan dengan imbang-imbangan antara peluang untuk menangkap, potensi untuk melukai atau mematikan dari predator dan waktu yang relatif panjang untuk menangani prey. Prey juga memiliki waktu untuk siap ditangkap.

4. Lari Dengan Mekanisme Pertahanan Lain
Mekanisme lari dalam hal ini diantaranya meliputi mimikri, kamuflase dan kolorasi disruptif, pertahanan kimiawi dan banyak mekanisme lainnya, seperti kecepatan yang memungkinkan individu prey menghindar dari predator.
Selain mekanisme diatas juga dikenal beberapa taktik lainnya. Perbedaan perkembangan taktik predator dalam mendapatkan prey sesuai atau mungkin dapat melampaui dari perbedaan taktik bertahan dan kebiasaan prey tersebut. Secara umum taktik anti predator dari prey dapat digambarkan sebagai berikut :
Melarikan diri dengan berlari, berenang, atau terbang menjauh dari predator
Cara ini merupakan salah satu taktik dasar dan sangat umum digunakan oleh prey. Tidak diragukan lagi bahwa setiap hewan memiliki ketangkasan dan kegesitan tersendiri. Pada beberapa species, prey yang benar-benar diincar mungkin akan pergi jauh atau akan memutar balik arah tujuan atau melompat atau mungkin pula terbang ke tempat lain, seperti menyelam ke dasar air atau memanjat pohon.

Menggunakan sistem peringatan
Banyak jenis dari prey mempunyai sistem sensor akut dan dapat mendeteksi pemangsa sebelum mereka datang terlalu dekat dan membahayakan.
Menggunakan pergerakan yang tidak dapat diduga

Tindakan ini biasanya disebut protean. Pelarian binatang mungkin dilakukan dengan cara zig-zag, melompat, mengganti arah terbang dan perpindahan lainnya dengan gaya yang sulit ditebak. Hal ini akan menyulitkan predator dalam mengikuti prey.
Menggunakan kulit keras

Banyak jenis mangsa yang memiliki kulit atau tempurung yang keras dan kuat yang akan melapisi dari luar untuk melindungi mereka dari serangan.

Menggunakan duri

Contohnya pada hewan landak, landak laut, bintang laut dan sebagainya.
Menggunakan serangan bertahan

Menyerang balik

Banyak jenis prey yang dapat menjadi sangat agresif. Kebanyakan dari serangga dan banyak rodentia dapat menyebabkan gigitan serius yang dapat melumpuhkan penyerang mereka. Mangsa yang sama besar atau lebih besar dari predatornya mempunyai kekuatan yang sama atau mungkin lebih besar sehingga pada beberapa kasus mereka dapat menyerang balik.

Membalas dengan serangan mendadak atau gigitan beracun

menggunakan racun yang didapat dari hewan lain :
Misalanya pada Molusca yang memakan Coelenterata dan kemudian menggunakan racun yang diperoleh dari Coelenterata untuk melindungi dirinya dari predator
Mengejutkan penyerang dengan suara yang mengejutkan, desisan, dan sebagainya. Beberapa ada yang merubah bentuk, ukuran tubuh ataupun melepaskan bagian tubuh mereka. Respon awal tersebut disebut Protean.

Menggunakan pertahanan kimia, contohnya pada sigung.

Kamuflase
Menggunakan mekanisme ganti kulit

Menggunakan bahan kamuflase lainnya yang dapat menipu pemangsanya
menciptakan kebingungan pemangsa.
Ada beberapa jenis prey yang menahan serangan dengan membuat bingung predatornya. Misalnya : Gurita yang mengeluarkan tinta hitam untuk melarikan diri agar tidak terlihat oleh predatornya.

Bersembunyi atau mencari tempat perlindungan

Mencari perlindungan dengan cara hidup berkelompok
Satu diantara banyaknya kebiasaan nilai pertahanan yang dimiliki hewan adalah melalui berkelompok dengan individu lainnya. Bila ada yang tertangkap maka ada kemungkinan bahwa yang tertangkap itu bukan dirinya, sehingga memungkinkan dirinya untuk kabur menyelamatkan diri. Hal ini dikenal sebagai prinsip you first.

Hidup pada zona netral antara daerah perbatasan predator
Taktik ini dicontohkan oleh kehidupan rusa yang tinggal bertetangga dengan daerah teritori serigala.

Menggunakan taktik kombinasi
Kebanyakan prey memiliki lebih dari satu taktik bergantung dari situasi dan predator, potensial prey dapat menggunakan tekhnik pertahanan yang berbeda atau beberapa kombinasi dari taktik pertahanan.

III. Metode Pengamatan
3.1 Alat dan Bahan
tab1.jpg

3.2 Prosedur Pengamatan

ditentukan habitat secara menyeluruh
ditentukan individu dan kelompok burung gereja yang akan diamati
dihitung frekuensi burung menengok ke kanan-kiri dan mematuk-matuk
diukur jarak terdekat antara pengamat dengan burung gereja hingga akhirnya burung gereja terbang menjauhi pengamat.

3.3 Prosedur Pengambilan Data

Tehnik pegumpulan data yang dilakukan adalah menjelajahi daerah pengamatan hingga ditemukan individu dan kelompok burung gereja. Kemudian satu individu tersebut diikuti dan diamati selama 2 jam. Maka diperoleh data frekuensi burung menengok kanan-kiri dan mematuk, data jarak minimal burung gereja terhadap pengamat. Karena data yang diperoleh merupakan hasil pengamatan dari 10 kelompok maka data dirata-ratakan dengan rumus :
Rata-rata Jarak minimal = S jarak minimal
S Pengamatan

IV. Hasil dan Pembahasan
4.1 Hasil

asd.png

sdfaf.png

4.2 Pembahasan

Dalam praktikum anti predator, praktikan mengamati tingkah laku burung serta reaksi yang dilakukan ketika mereka merasa terancam. Perilaku tersebut dalam ekologi dinamakan anti-predator, yaitu suatu bentuk kewaspadaan dari prey terhadap gangguan yang ditimbulkan dari luar (predator).

Reaksi anti predator yang dapat diamati pada beberapa perilaku burung gereja ( Passer montanus ) diantaranya ketika burung menengok ke kanan dan ke kiri serta pergi menjauh ketika praktikan mendekati pada jarak tertentu. Sedangkan perilaku mematuk-matuk pada burung merupakan suatu tanda bahwa sikap kewaspadaan burung tersebut sedang rendah.

Ketiga perilaku tersebut dapat dijadikan indikator dalam mengamati tingkat kewaspadaan pada burung dalam menghadapi pemangsanya. Pengamatan dilakukan terhadap burung gereja (Passer montanus) yang terdapat di sekitar wilayah kampus Unpad Jatinangor. Burung ini dijadikan sebagai objek pengamatan anti predator dikarenakan mudah ditemukan berkelompok dan sudah beradaptasi dengan lingkungan dan keberadaan manusia sehingga praktikan dapat mengamati perilaku burung tersebut dengan jelas dalam jarak tertentu karena tingkat kewaspadaanya kurang.

Dari data yang diperoleh, didapat hasil bahwa frekuensi rata-rata burung secara individu melakukan tengokkan ke kanan dan ke kiri sebanyak 572,8 kali dalam 30 menit. Sedangkan frekuensi burung melakukan tengokkan ke kanan dan kekiri ketika mereka berada dalam kelompoknya sebanyak 322,3 kali dalam 30 menit pengamatan.

Perilaku burung menengok ke kanan dan ke kiri merupakan salah satu bentuk perilaku kewaspadaan dan antisipasi mereka terhadap gangguan serta keberadaan predator yang akan mengancam dirinya. Semakin sering burung menengok ke kanan dan ke kiri, semakin tinggi tingkat kewaspadaannya. Jika dilihat dari data pengamatan maka dapat terlihat bahwa frekuensi tengokkan burung ketika mereka berada sendiri (individu) lebih besar dibandingkan dengan frekuensi tengokkan yang mereka lakukan ketika mereka berada dalam kelompok. Hal ini menunjukkan bahwa ketika mereka berada sebagai individu mereka memiliki tingkat kewaspadaan lebih tinggi dibandingkan ketika mereka berada dalam kelompoknya. Salah satu tekhnik prey untuk menghindari predator adalah dengan cara hidup di dalam kelompok sehingga akan mengurangi peluang bahwa suatu individu akan termangsa. Cara ini dikenal dengan prinsip ‘you first’.

Sebaliknya perilaku mematuk-matuk merupakan perilaku yang menunjukkan bahwa burung tersebut sedang tidak waspada. Dapat dikatakan bahwa tingkat anti predator atau kewaspadaan burung tersebut pada saat itu rendah. Dari data pengamatan diperoleh bahwa frekuensi rata-rata mematuk-matuk pada individu sebesar 557,1 kali dalam 30 menit, sedangkan frekuensi rata-rata mematuk-matuk ketika burung berada dalam kelompoknya adalah sebesar 339,1 kali dalam 30 menit.

Hasil ini kurang sesuai dengan teori yang ada. Seharusnya frekuensi rata-rata burung mematuk-matuk dalam kelompok lebih besar dibandingkan dengan ketika burung sedang sendiri. Sebab ketika dia berada di dalam kelompoknya, burung akan merasa lebih aman, sesuai dengan prinsip ‘you first’. Dalam keadaan berkelompok burung lebih banyak mematuk karena lebih merasa terlindungi terutama yang berarda di lokasi sentral daripada yang di ujung / perifer.

Selain itu, ketika keberadaan burung hanya berupa individu tunggal, maka sebagian besar waktunya dipergunakan untuk memperhatikan keadaan lingkungan sekitar sebab dia hanya memiliki pertahanan tunggal (individu) sehingga dia dapat mewaspadai setiap gerakan predator yang akan menyerangnya.

Satu lagi perilaku anti predator pada burung adalah adanya ketika burung akan terbang menjauh apabila predator (dalam hal ini manusia) memasuki jarak yang menurut mereka membahayakan. Menurut teori yang ada, taktik ini merupakan taktik dasar yang umum digunakan oleh prey untuk menghindari predator.

Dari data pengamatan diperoleh bahwa rata-rata jarak minimum individu Passer montanus adalah 5,85 meter, sedangkan rata-rata jarak minimum dari kelompok Passer montanus adalah 4,75 meter.

Rata-rata jarak minimum individu lebih besar dibandingkan dengan jarak minimum ketika burung berada di dalam kelompoknya. Hal ini dikarenakan ketika berada di dalam kelompok, individu akan merasa lebih aman sebab memiliki pertahanan kelompok. Dalam hidup berkelompok, hewan dapat meningkatkan upaya untuk menghindari predator dengan membuat pertahanan kelompok yang lebih efektif dibandingkan dengan pertahanan individu tunggal.

KESIMPULAN

  • Anti predator merupakan bentuk perilaku dari hewan untuk melindungi dirinya dari predator.
  • Perilaku anti predator yang menunjukkan tinggi randahnya tingkat kewaspadaan burung dapat terlihat dari frekuensi rata-rata tengokkan, frekuensi rata-rata mematuk-matuk dan rata-rata jarak minimum predator ke prey.
  • Frekuensi rata-rata tengokkan individu Passer montanus sebesar 572,8 kali dalam 30 menit, sedangkan frekuensi burung melakukan tengokkan ketika berada dalam kelompok sebanyak 322,3 kali dalam 30 menit pengamatan.
  • Frekuensi rata-rata patukan individu Passer montanus sebesar 557,1 kali dalam 30 menit, sedangkan frekuensi rata-rata patukan ketika burung berada dalam kelompoknya sebesar 339,1 kali dalam 30 menit.
  • Rata-rata jarak minimum dari individu Passer montanus sebesar 5,85 meter, sedangkan rata-rata jarak minimum dari kelompok Passer montanus adalah 4,75 meter.
  • Hewan akan merasa lebih aman berada di dalam kelompok (tingkat kewaspadaannya rendah) jika dibandingkan ketika mereka berada sebagai individu tunggal.
  • Antara prey yang satu dengan yang lain memiliki tekhnik anti predator yang berbeda tergantung dari jenis predatornya.

DAFTAR PUSTAKA

Grier. J. W., 1984, Biology of Animal Behavior. Time Mirror/Mosby College Publishing : St. Louis Toronto

McNaughton. S. J. dan Larry L.Wolf, 1990, Ekologi Umum Ed. 2.Gajah Mada University Press : Yogyakarta

Poole, Robert W. 1974. An Introduction of Quantitative Ecology. McGraw – Hill, inc : USA

http://www.allsciencestuff.com/

Penulis : erik arianto ( Biologi 2004 )

2 Responses

  1. ahamdulillah, terima kasih mas atas bantuannya. ini yang say cari2 selama ini. saya sangat butuh tuisan ini untuk referensi penulisan ilmiah saya. semoga kita semua sukses ya..terutam untuk mas erik yang teah menyampaikan ilmu kepada kita semua.

  2. wah, thank’s ya..
    q ska penelitian mu..
    wlo keliatannya kurang kerjaan ngeliatin burung yg tengok knan-kiri, tapi bt q interest bgt..
    ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: